1. Dari Abi Bakar As-Shiddiq RA (Barang
siapa yang
memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu
berupa amal shalih maka keadaannya seperti
orang yang menyeberangi lautan tanpa
menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia
akan tenggelam dengan se tenggelam-
tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat
kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-
orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana
sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat
yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang
tenggelam yang meminta pertolongan.
memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu
berupa amal shalih maka keadaannya seperti
orang yang menyeberangi lautan tanpa
menggunakan perahu). Maka sudahlah pasti ia
akan tenggelam dengan se tenggelam-
tenggelamnya dan tidak mungkin akan selamat
kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-
orang yang dapat menolongnya.. sebagaimana
sabda Rasulullah SAW, tidaklah seorang mayat
yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang
tenggelam yang meminta pertolongan.
2. Nabi SAW bersabda, (wajib bagi kamu semua
untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang
mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan
kalam para ahli hikmah) artinya orang yang
mengenal Tuhan.
(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan
menghidupkan hati yang mati dengan cahaya
hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana
Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air
hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani
dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang
dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para
‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli
hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah
kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan
kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua
macam,
1. orang yang alim tentang hukum-
hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa,
dan
2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka
itulah para hukama’ yang dengan bergaul
dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak,
karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar
sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr /
rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur
keagungan Allah
. Telah bersabda Nabi SAW,
akan hadir suatu masa atas umatku, mereka
menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah
akan memberikan cobaan kepada mereka dengan
tiga cobaan,
1. Allah akan menghilangkan berkah
dari rizkinya.
2. Allah akan mengirim kepada
mereka penguasa yang zalim
3. Mereka akan
keluar meninggalkan dunia tanpa membawa
iman kepada Allah Ta’ala. Na’udzubiLlahi min
dzaalik.
untuk duduk bersama para ‘Ulama) artinya yang
mengamalkan ilmunya, (dan mendengarkan
kalam para ahli hikmah) artinya orang yang
mengenal Tuhan.
(Karena sesungguhnya Allah Ta’ala akan
menghidupkan hati yang mati dengan cahaya
hikmah-ilmu yang bermanfaat- sebagaimana
Allah menghidupkan bumu yang mati dengan air
hujan). Dan dalam riwayat lain dari Thabrani
dari Abu Hanifah “Duduklah kamu dengan orang
dewasa, dan bertanyalah kamu kepada para
‘Ulama dan berkumpulah kamu dengan para ahli
hikmah” dan dalam sebuah riwayat, “duduklah
kamu degan para ulama, dan bergaulah dengan
kubaro’ ”. Sesungguhnya Ulama itu ada dua
macam,
1. orang yang alim tentang hukum-
hukum Allah, mereka itulah yang memiliki fatwa,
dan
2. ulama yang ma’rifat akan Allah, mereka
itulah para hukama’ yang dengan bergaul
dengan mereka akan dapat memperbaiki akhlak,
karena sesungguhnya hati mereka telah bersinar
sebab ma’rifat kepada Allah demikian juga sirr /
rahasia mereka telah bersinar disebabkan nur
keagungan Allah
. Telah bersabda Nabi SAW,
akan hadir suatu masa atas umatku, mereka
menjauh dari para ulama dan fuqaha, maka Allah
akan memberikan cobaan kepada mereka dengan
tiga cobaan,
1. Allah akan menghilangkan berkah
dari rizkinya.
2. Allah akan mengirim kepada
mereka penguasa yang zalim
3. Mereka akan
keluar meninggalkan dunia tanpa membawa
iman kepada Allah Ta’ala. Na’udzubiLlahi min
dzaalik.
3. Diriwayatkan dari Nabi SAW,
sesungguhnya Beliau
bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu
yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu
iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada
sesama muslim). Baik degan ucapan atau
kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan
badannya.
RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang
pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk
menganiaya terhadap seseorang maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan
barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat
memberikan pertolongan kepada orang yang
dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka
baginya mendapat pahala seperti pahala hajji
yang mabrur).
Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling
dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling
utama adalah membahagiakan hati orang mukmin
dengan menghilangkan laparnya, atau
menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan
hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada
sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu
syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya
kepada kaum muslimin).
Baik membahayakan atas badannya, atau
hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah
Allah kembali kepada dua masalah tersebut.
Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada
makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala
Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan
firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur
kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.
bersabda (Ada dua perkara, tidak ada sesuatu
yang lebih utama dari dua perkara tersebut, yaitu
iman kepada Allah dan berbuat kebajikan kepada
sesama muslim). Baik degan ucapan atau
kekuasaannya atau dengan hartanya atau dengan
badannya.
RasuuluLlah SAWW bersabda, (barang siapa yang
pada waktu pagi hari tidak mempunyai niat untuk
menganiaya terhadap seseorang maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan
barang siapa pada waktu pagi hari memiliki niat
memberikan pertolongan kepada orang yang
dianiaya atau memenuhi hajat orang islam, maka
baginya mendapat pahala seperti pahala hajji
yang mabrur).
Dan Nabi SAW bersabda (Hamba yang paling
dicintai Allah Ta’ala adalah yang paling
bermanfaat bagi orang lain. Dan amal yang paling
utama adalah membahagiakan hati orang mukmin
dengan menghilangkan laparnya, atau
menghilangkan kesusahannya, atau membeyarkan
hutangnya. Dan ada dua perkara, tidak ada
sesuatu yang lebih buruk dari dua tersebut yaitu
syirik kepaad Allah dan mendatangkan bahaya
kepada kaum muslimin).
Baik membahayakan atas badannya, atau
hartanya. Karena sesungguhnya semua perintah
Allah kembali kepada dua masalah tersebut.
Mengagungkan Allah dan berbuat baik kepada
makhluknya, sebagaimana firman Allah Ta’ala
Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan
firman Allah Ta’ala Hendaklah kamu bersyukur
kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu.
4. “Orang yang bahagia adalah orang yang
disenangkan oleh Allah tanpa alasan tertentu dan
orang yang sengsara adalah orang yang
disengsarakan Allah tanpa sebab tertentu.
Demikianlah menurut ilmu hakikat. Sedangkan
menurut ilmu syariat; orang yang bahagia adalah
orang yang oleh Allah diberi kesenangan dengan
melakukan berbagai amal saleh, dan orang yang
disengsarakan oleh Allah dengan meninggalkan
amal-amal saleh dan melanggar syariat agama.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )
disenangkan oleh Allah tanpa alasan tertentu dan
orang yang sengsara adalah orang yang
disengsarakan Allah tanpa sebab tertentu.
Demikianlah menurut ilmu hakikat. Sedangkan
menurut ilmu syariat; orang yang bahagia adalah
orang yang oleh Allah diberi kesenangan dengan
melakukan berbagai amal saleh, dan orang yang
disengsarakan oleh Allah dengan meninggalkan
amal-amal saleh dan melanggar syariat agama.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )
5. “Tidak ada satupun ilmu yang ingin
aku pelajari
setelah aku memahami tentang masalah halal
dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi
mengapa kita jauh terbelakang dibanding dengan
orang-orang nasrani?”
( Imam Syafi’i )
setelah aku memahami tentang masalah halal
dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi
mengapa kita jauh terbelakang dibanding dengan
orang-orang nasrani?”
( Imam Syafi’i )
6. Tanda bahwa seorang
yg berdakwah benar2 mengikuti
baginda muhammad saw
dan mencari ridho allah swt
adalah,, ucapannya slalu mengajak
kejalan taqwa kepada allah swt
dan mengajarkan akhlak baginda muhammad saw,,
bukannya menumbuhkan perpecahan antar umat
krn sebagaimana engkau tak mau ikut faham orang
lain maka mereka pun juga tak akan mau ikut
fahammu!
jng paksakan orang ikut madzhabmu
krn engkau pun juga tak mau ikut madzhab mereka!!
berdakwalah bukan dalam rangka meyebarkan
madzhab kalian masing2 tp berdakwalah dalam
rangka mengajak umat agar mengenal allah swt dan
rasulullah saw dengan saling menghargai bukan
saling mencaci !!!
yg berdakwah benar2 mengikuti
baginda muhammad saw
dan mencari ridho allah swt
adalah,, ucapannya slalu mengajak
kejalan taqwa kepada allah swt
dan mengajarkan akhlak baginda muhammad saw,,
bukannya menumbuhkan perpecahan antar umat
krn sebagaimana engkau tak mau ikut faham orang
lain maka mereka pun juga tak akan mau ikut
fahammu!
jng paksakan orang ikut madzhabmu
krn engkau pun juga tak mau ikut madzhab mereka!!
berdakwalah bukan dalam rangka meyebarkan
madzhab kalian masing2 tp berdakwalah dalam
rangka mengajak umat agar mengenal allah swt dan
rasulullah saw dengan saling menghargai bukan
saling mencaci !!!
7. Rekan2 yang ingin mengetahui tentang TASAWWUF,
berikut ini saya sampaikan sesuai dengan yang saya ketahui dari membaca BUKU (kitab) tentangnya.
.
Menurut SYEIKH ABDUL QODIR AL JAELANI di dalam
"Kitab Sir al-Asrar", tasawuf diambil dari kata “ash- shafa” yang bermakna suci.
Hati disucikan dengan makanan yang halal, dengan berma’rifat secara sungguh-sungguh dan benar kepada Allah SWT yang oran yang telah mencapai tahap tersebut disebut "SUFI".
Seorang sufi yang benar di dalam tasawufnya akan mensucikan hatinya dari segala sesuatu selain Allah.
Ia tidak menjelekkan baju, menguningkan wajah, dan lain-lain dengan maksud menghinakan diri pada dunia. Akan tetapi, seorang sufi akan datang dengan
kejujurannya dalam mengharap ridha Allah, dengan zuhudnya terhadap dunia, dengan mengeluarkan makhluk dari dalam hatinya, dan dengan mengosongkan diri dari segala sesuatu selain dari Allah SWT.
berikut ini saya sampaikan sesuai dengan yang saya ketahui dari membaca BUKU (kitab) tentangnya.
.
Menurut SYEIKH ABDUL QODIR AL JAELANI di dalam
"Kitab Sir al-Asrar", tasawuf diambil dari kata “ash- shafa” yang bermakna suci.
Hati disucikan dengan makanan yang halal, dengan berma’rifat secara sungguh-sungguh dan benar kepada Allah SWT yang oran yang telah mencapai tahap tersebut disebut "SUFI".
Seorang sufi yang benar di dalam tasawufnya akan mensucikan hatinya dari segala sesuatu selain Allah.
Ia tidak menjelekkan baju, menguningkan wajah, dan lain-lain dengan maksud menghinakan diri pada dunia. Akan tetapi, seorang sufi akan datang dengan
kejujurannya dalam mengharap ridha Allah, dengan zuhudnya terhadap dunia, dengan mengeluarkan makhluk dari dalam hatinya, dan dengan mengosongkan diri dari segala sesuatu selain dari Allah SWT.
Pandangan SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI di atas
nampak bahwa ia juga memberikan kritik terhadap praktik-praktik sufi yang berlebihan pada masanya.
Menurutnya, seorang sufi adalah mereka yang selalu berusaha menyucikan zahir batinnya dengan tidak meninggalkan ajaran yang tertuang dalam kitab suci
serta sunnah Rasulullah. Sedang tasawuf adalah senantiasa berperilaku benar dan jujur dalam kebajikan, dan berperilaku baik kepada semua makhluk Allah.
.
Menurut SYEIKH ABDUL QODIR
ALJAELANI, perilaku sufi tidak terpisah dari konteks hubungan individu dengan Allah SWT dan juga hubungannya dengan manusia yang harus seimbang.
Lebih jauh, SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI menguraikan makna sufi dan tasawufnya tersebut bahwa inti dari tasawuf, sesuai dari huruf-huruf
Bahasa Arab.
Huruf pertama adalah “ta” yang berarti taubah. Pintu taubat adalah selalu merasa khawatir tentang kedudukan dirinya di sisi Allah. Pengertian taubat di sini meliputi dua macam taubat yakni taubat lahir
dan taubat batin. Yang dimaksud dengan taubat lahir adalah menyesuaikan perbuatan dan perkataannya dengan ketaatan kepada Allah dan Nabi-Nya.
Sedangkan taubat batin sama artinya dengan tashfiyah al-qalb, penyucian hati dari sifat-sifat yang tercela, untuk kemudian diganti dengan sifat-sifat
yang terpuji. Inti dari taubat adalah mengerahkan hati sepenuhnya untuk sampai kepada tujuan utamanya, yakni Allah al-Haq.[4]
Huruf kedua adalah “shad” yang berarti “shafa” yang berarti bersih dan bening. Makna shafa’ disini juga meliputi dua macam shafa’, yakni shafa’ al-qalb dan
shafa as-sirr. Maksud dari shafa’ al-qalb adalah membersihkan hati dari sifat-sifat manusiawi yang kotor dan kenikmatan dunia, seperti banyak makan dan minum, banyak tidur, banyak bicara yang tidak
berguna, cinta harta, dan lain lain.
Untuk membersihkan hati dari yang demikian itu, caranya adalah dengan memperbanyak dzikir kepada Allah
dengan suara jahr (keras) sampai pada tingkatan takut.
Sesuai dengan firman Allah:
ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻮﻥ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺇﺫﺍ ﺫﻛﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺟﻠﺖ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﻭﺇﺫﺍ ﺗﻠﻴﺖ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺀﺍﻳﺎﺗﻪ ﺯﺍﺩﺗﻬﻢ ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ ﻭﻋﻠﻰ ﺭﺑﻬﻢ ﻳﺘﻮﻛﻠﻮﻥ )ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻷﻧﻔﺎﻝ: ٢ )
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahalah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabblah mereka bertawakkal, (QS. al Anfaal: 2)
Sedangkan maksud dari shafa as-sirr adalah mencintai Allah dan menjauhi segala sesuatu selain Allah SWT dengan cara senantiasa melantunkan asma’ Allah melalui lisannya atau secara sirr. Apabila
keduanya telah dilaksanakan dengan sempurna maka, sempurnalah maqam huruf ‘shad’ ini.
Huruf ketiga adalah ‘waw’ yang bermakna wilayah.
Yaitu keadaan suci dan hening yang ada pada jiwa kekasih Allah. Keadaan ini tergantung pada kesucian seseorang yang tercermin dalam QS. Yunus ayat 62 dan 64:
ﺃﻵ ﺇﻥ ﺃﻭﻟﻴﺂﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﺧﻮﻑ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﻻﻫﻢ ﻳﺤﺰﻧﻮﻥ )ﺳﻮﺭﺓ ﻳﻮﻧﺲ: ٦٢ )
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Yunus:62)
ﻟﻬﻢ ﺍﻟﺒﺸﺮﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺧﺮﺓ ﻻﺗﺒﺪﻳﻞ ﻟﻜﻠﻤﺎﺕ
ﺍﻟﻠﻪ ﺫﻟﻚ ﻫﻮ ﺍﻟﻔﻮﺯ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ )ﺳﻮﺭﺓ ﻳﻮﻧﺲ: ٦٤ )
Artinya: “Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.
Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji ) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus :64)
Orang yang sampai pada tahapan ini, mendapatkan kesadaran dan cinta sepenuhnya dari Allah, sehingga akhlaknya adalah akhlakNya. Dan segala tindak tanduknya bersesuaian dengan kehendakNya.
Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berkata: “… Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi penglihatan, pendengaran, tangan, dan penolong baginya…”
Huruf yang terakhir adalah ‘fa’ yang melambangkan fana’ di dalam kebesaran Allah, yaitu pengosongan dan penghapusan segala macam sifat-sifat manusia dengan menyatakan keabadian sifat-sifat Allah.
Melepaskan diri dari makhluk dan kedirianya serta sesuai dengan kehendak-Nya. Jika sudah demikian, maka ke-fana’-an manusia akan abadi (baqa’) bersama Tuhannya dan keridhaan-Nya.
Pengertian fana’ SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI ini, jika disandingkan dengan pandangan Ibrahim Madkur ketika mengomentari istilah fana’-nya para sufi falsafi, sangat identik dengan pandangan
mereka.
Menurut Ibrahim Madkur, pada dasarnya teori fana' yang diamalkan oleh para sufi akhirnya hendak menjelaskan tentang hilangnya kesadaran dan perasaan pada diri dan alam sekitar, terhapusnya seorang hamba dalam kebesaran Tuhan, sirnanya seorang hamba terhadap wujud dirinya dan kekal di dalam wujud Tuhannya setelah melewati perjuangan
dan kesabaran serta pembersihan jiwa.
Untuk menjelaskan keabadian seorang hamba, al- Jailani lebih hati-hati agar tidak disalah pahami.
Menurutnya, keabadian manusia, disebabkan amal shalihnya, sebagaimana yang disinggung oleh Allah dalam firmanNya:
ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﻌﺰﺓ ﻓﻠﻠﻪ ﺍﻟﻌﺰﺓ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﻳﺼﻌﺪ ﺍﻟﻜﻠﻢ ﺍﻟﻄﻴﺐ ﻭﺍﻟﻌﻤﻞ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ ﻳﺮﻓﻌﻪ ﻭﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻤﻜﺮﻭﻥ ﺍﻟﺴﻴﺌﺎﺕ ﻟﻬﻢ ﻋﺬﺍﺏ ﺷﺪﻳﺪ ﻭﻣﻜﺮ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﻫﻮ ﻳﺒﻮﺭ )ﺳﻮﺭﺓ ﻓﺎﻃﺮ: ١٠ )
Artinya: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah kemuliaan itu semuanya. Kepada- Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal
yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (QS. Fathir:10)
Meskipun SYEIKH ABDUL QODIR
ALJAELANI tidak menjelaskan secara sistematis tasawuf dalam bentuk
maqamat-maqamat atau ahwal-ahwal secara berurutan seperti kebanyakan sufi,
namun ketika melihat dari ulasan SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI
tentang pengertian tasawuf secara
harfiah, telah mengarahkan perjalanan ruhani seseorang dalam untuk melewati
tahap-tahap tertentu, mulai dari taubat, pembersihan hati dan penyerahan
segalanya kepada Khaliq, yang berakhir pada tingkatan fana’. Jika dikatakan bahwa
memilih hidup sufi berarti memilih hidup dengan menjauhi dunia, maka sekali-
kali SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI tidak pernah mempunyai sikap hidup
mengasingkan diri, dalam pengertian membenci dunia meskipun ia menolak
untuk menikmati dunia secara berlebihan, yang menenggelamkan dan mengasyikkan hati, sehingga membuat lupa kepada penciptanya (Allah SWT).
untuk menikmati dunia secara berlebihan, yang menenggelamkan dan mengasyikkan hati, sehingga membuat lupa kepada penciptanya (Allah SWT).
Mengenai keterkaitan dengan DUNIA, SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI berkata:
“Kuasai dunia, jangan dikuasai olehnya. Milikilah dunia, jangan dimiliki dunia. Setirlah dunia, jangan diperbudak olehnya. Ceraikanlah dunia, jangan kamu
diceraikan olehnya. Jangan kamu dibinasakan olehnya. Tasarufkanlah dunia, karena sabda Nabi:
Sebaik-baik harta adalah harta hamba yang saleh.
.
Konsepsi sufistik SYEIKH ABDUL QODIR ALJAELANI, adalah konsepsi sufistik yang murni, dilandasi oleh ketentuan syari’at Ilahi. Ia melarang seseorang mencebur dalam dunia sufi sebelum orang itu matang dan kuat syariatnya. Sebab, hubungan syari’at di antara thariqah, ma’rifah, dan haqiqah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi
Muhammad saw. “Syari’at laksana batang pohon, thariqah adalah cabang-cabangnya, ma’rifah adalah daunnya sedangkan haqiqah adalah buahnya”, Jadi
untuk memetik buahnya seorang sufi harus melalui tahap pengamalan syari’at dengan istiqamah.
Wallahu A'lam Bishshawab............
Ummu
Mariyyam……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar